BATAM, duniadalamberita.online – Jeritan dan jerit keluh masyarakat di kawasan pulau-pulau terluar (hinterland) Kota Batam kembali mencuat ke permukaan. Warga Pulau Gara, Kelurahan Kasu, Kecamatan Belakang Padang, harus berjuang hidup di tengah keterbatasan fasilitas dasar yang teramat memprihatinkan. Bagaimana tidak, fasilitas penerangan listrik hanya menyala 5 jam sehari, pasokan BBM jenis solar untuk melaut sangat sulit didapat, hingga kondisi dermaga utama yang rusak parah dan mengancam keselamatan warga.
Kondisi ketimpangan yang kontras dengan megahnya pembangunan infrastruktur di kawasan perkotaan (mainland) Kota Batam ini memicu desakan keras agar Pemerintah Kota (Pemko) Batam dan BP Batam tidak lagi mengabaikan nasib masyarakat pesisir.
⚓ Tiga Jeritan Utama Warga Pesisir Pulau Gara
Ketimpangan fasilitas publik yang dialami masyarakat Pulau Gara mencakup tiga sektor pelayanan dasar yang vital bagi kehidupan sehari-hari:
Listrik Terbatas Hanya 5 Jam Sehari: Akses penerangan listrik di Pulau Gara sejauh ini hanya bergantung pada mesin genset kampung yang beroperasi terbatas mulai jam 18.00 WIB hingga 23.00 WIB. Minimnya pasokan daya listrik melumpuhkan aktivitas ekonomi warga, pendidikan anak-anak sekolah, serta penyimpanan hasil tangkapan nelayan.
Kelangkaan Solar Bagi Nelayan: Mayoritas warga Pulau Gara yang menggantungkan hidup sebagai nelayan tradisional kesulitan mendapatkan alokasi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi. Kondisi ini membuat biaya operasional melaut melonjak tajam hingga memaksa banyak nelayan berhenti melaut.
Dermaga Kayu Rusak Parah & Lapuk: Dermaga pelabuhan yang menjadi satu-satunya jalur konektivitas dan pintu gerbang mobilitas warga menuju kota kini dalam kondisi lapuk dan membahayakan. Anak-anak sekolah dan warga yang hendak berobat kerap diintai bahaya terperosok ke laut.
🚨 Pernyataan Sikap Redaksi: Hentikan Anak Emas Mainland, Pemko & BP Batam Wajib Turun Tangan Bangun Hinterland!
Menyikapi keterisolasian dan kerusakan fasilitas dasar di Pulau Gara Belakang Padang per Agustus 2026 ini, redaksi DUNIA DALAM BERITA ONLINE memberikan pernyataan sikap pengawasan publik yang sangat tegas:
Prioritaskan Pembangunan Listrik PLN 24 Jam di Pulau Gara: Wali Kota Batam dan PLN Batam wajib bersinergi menghadirkan solusi listrik komunal (PLTS atau genset PLN) agar warga Pulau Gara dapat menikmati penerangan 24 jam penuh! Akses listrik adalah hak dasar seluruh warga negara, bukan kemewahan!
Jamin Kuota & Distribusi Solar Subsidi Nelayan Bebas Spekulan: Dinas Perikanan dan Pertamina wajib memastikan alokasi solar bersubsidi sampai ke tangan nelayan pesisir Pulau Gara tanpa perantara maupun permainan harga oleh oknum spekulan.
Rehabilitasi Total Dermaga Pulau Gara: Pemko Batam melalui Dinas Perhubungan wajib mengalokasikan anggaran tanggap darurat untuk membangun kembali dermaga Pulau Gara secara permanen dan layak demi keselamatan serta kelancaran transportasi warga pesisir.
"Pembangunan Kota Batam tidak boleh hanya berpusat di gedung-gedung tinggi mainland! Rakyat pesisir di Pulau Gara memiliki hak yang sama atas listrik, solar, dan pelabuhan yang layak!" tegas Pimpinan Redaksi.
DUNIA DALAM BERITA ONLINE akan terus berada di garis depan untuk mengawal pemerataan pembangunan, perlindungan hak-hak masyarakat hinterland, serta transparansi pelayanan publik di Kota Batam dan Kepulauan Riau.
Bagaimana pendapat Anda mengenai kesenjangan pembangunan antara kawasan mainland dan hinterland di Kota Batam saat ini?
Tetaplah kritis, dukung kesejahteraan warga pulau, dan kawal keadilan pembangunan daerah!
Tim Investigasi Pembangunan Hinterland & Pesisir Daerah
Redaktur Pelaksana: M.A.D.H.L