ESKALASI GLOBAL: Selat Hormuz di Titik Didih! Ghalibaf Ultimatum AS, Saling Serang Rudal Guncang Kawasan Teluk

ESKALASI GLOBAL: Selat Hormuz di Titik Didih! Ghalibaf Ultimatum AS, Saling Serang Rudal Guncang Kawasan Teluk
BATAM, duniadalamberita.online – Ketegangan geopolitik antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat (AS) kini telah mencapai titik didih yang kritis. Perairan strategis Selat Hormuz kembali menjadi arena unjuk kekuatan militer setelah rentetan provokasi yang diduga terus digencarkan oleh Washington.

Menanggapi eskalasi yang kian tak terkendali, Ketua Parlemen Iran yang juga bertindak sebagai negosiator utama perundingan, Mohammad Bagher Ghalibaf, melontarkan ultimatum keras kepada Amerika Serikat. Ghalibaf menegaskan bahwa Teheran sudah habis kesabaran dan siap melakukan balasan mematikan jika AS terus mengingkari komitmen diplomatik.

"Era kesepakatan sepihak telah berakhir. Kami sudah memperingatkan Anda, tepati janji Anda atau tanggung akibatnya. Kenyataan sudah di depan mata," tegas Ghalibaf dalam unggahannya di platform X pada Ahad (12/7/2026) dini hari waktu setempat.

Menggugat 'MOU Islamabad' dan Penguasaan Selat Hormuz
Sikap keras Ghalibaf tidak sekadar gertakan kosong. Dalam unggahan yang sama, ia menyertakan gambar berisi kutipan eksplisit dari Pasal 5 "Memorandum of Understanding (MoU) Islamabad"—sebuah kesepakatan damai antara AS dan Iran yang sebelumnya ditandatangani pada 18 Juni lalu.

Pasal kelima dari dokumen tersebut secara spesifik mengatur pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz, dengan penekanan tajam pada frasa: "Republik Islam Iran akan membuat pengaturan". Hal ini menjadi dasar legitimasi Teheran untuk mengambil alih kendali penuh atas perairan tersebut saat merasa kedaulatannya diancam.

Saling Serang di Udara: Drone dan Rudal Menghujani Timur Tengah
Ultimatum politik ini langsung beresonansi dengan dentuman militer di lapangan. Iran dilaporkan telah melancarkan serangan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) berskala besar yang menargetkan pangkalan serta instalasi militer milik AS di sejumlah negara kawasan Teluk.

Tak tinggal diam, militer Amerika Serikat membalas dengan melancarkan gelombang serangan tahap ketiga. Serangan balasan Washington ini secara presisi mengincar instalasi radar pertahanan, fasilitas peluncuran rudal, serta pangkalan drone di wilayah Iran bagian selatan.

Menurut pernyataan resmi dari Komando Pusat AS (CENTCOM), operasi militer yang mereka lakukan adalah bentuk "pertahanan diri dan balasan mutlak" atas tindakan agresif Iran. CENTCOM menuduh armada Iran telah menembaki kapal dagang internasional yang melintas di Selat Hormuz, serta menutup paksa jalur urat nadi perdagangan minyak global tersebut hingga batas waktu yang tidak ditentukan.

Insiden penembakan kapal dagang ini juga dilaporkan telah menelan korban, di mana satu orang dinyatakan hilang di tengah perairan konflik.

Dunia kini menahan napas. Apakah kegagalan implementasi "MoU Islamabad" ini akan memicu pecahnya perang terbuka berskala besar di Timur Tengah, atau kedua belah pihak akan kembali ke meja perundingan sebelum Selat Hormuz benar-benar tenggelam dalam lautan api? (Red)

Tim Investigasi Internasional
Redaktur Pelaksana: M.A.D.H.L ***
📲 Bagikan ke WhatsApp