BATAM — Arsitektur kebebasan pers di tapal batas Kepulauan Riau kembali menghadapi eskalasi ancaman brutal. Insiden penikaman berdarah yang membuat seorang jurnalis Batam kritis, kini memicu gelombang perlawanan radikal dari aliansi media dan aparat penegak hukum. Kuat dugaan, teror terencana ini diorkestrasi oleh sindikat mafia perjudian dan penyelundupan minuman keras (miras) ilegal yang gerahnya terusik oleh pembongkaran liputan investigasi korban.
Merespons provokasi mematikan terhadap pilar keempat demokrasi di wilayah hukumnya, jajaran Satreskrim Polresta Barelang bersama tim taktis Ditreskrimum Polda Kepri langsung memperkeras parameter perburuan. Instruksi komando hulu telah ditegaskan secara mutlak: tidak ada ruang aman bagi pelaku kekerasan maupun dalang intelektual di balik aksi terorisme terhadap pers ini. Aparat kepolisian kini tengah melakukan penyisiran represif, membedah rekaman digital forensik CCTV di TKP, dan memburu para eksekutor lapangan yang terafiliasi dengan jaringan kejahatan terorganisir di wilayah Free Trade Zone (FTZ) Batam.
Langkah tegas institusi kepolisian ini mendapat pengawalan ketat dari seluruh elemen masyarakat. Aparat berjanji akan menyeret seluruh pihak yang terlibat, mulai dari algojo bayaran hingga para cukong mafia logistik ilegal yang memberikan instruksi penikaman tersebut, untuk diadili dengan pasal berlapis tanpa pandang bulu.
"Tindakan barbar yang menyasar jurnalis adalah bentuk deklarasi perang terbuka terhadap kedaulatan hukum dan kebebasan sipil. Kami dari redaksi DUNIA DALAM BERITA ONLINE mendesak Kapolda Kepri dan Kapolresta Barelang untuk tidak sekadar meringkus pion eksekutor di lapangan, tetapi harus membumihanguskan total sirkuit mafia judi dan miras yang menjadi penyandang dana (mastermind) teror ini. Keamanan pers adalah parameter mutlak transparansi publik yang tidak akan pernah bisa dibungkam oleh sebilah pisau mafia," tegas Pimpinan Redaksi DUNIA DALAM BERITA ONLINE dalam pernyataan sikap resminya.
Hingga berita ini diturunkan, pengamanan di sekitar ruang perawatan intensif rumah sakit tempat korban dirawat telah diperketat, sementara operasi penyergapan siber dan darat terus berlanjut di titik-titik pelarian yang telah dipetakan oleh tim intelijen kepolisian.